Tuesday, September 28, 2010

Alasan Wanita Cenderung Sering Marah

Kemarahan tak ubahnya seperti hubungan intim yang hampir dilakukan secara rutin.

VIVAnews - Selain karena alasan ekspresif, seorang psikologi dari University di South Florida, Charles Speilberger, Ph.D menganggap para wanita memiliki hormon yang tidak stabil.

Bahkan, menuri co-editor buku berjudul 'International Handbook of Anger' ini, kemarahan telah mendapat fasilitasnya sendiri. "Kini wanita lebih senang melampiaskan kemarahannya lewat media jejaring sosial, reality show sampai menulis buku."

Kemarahan, diakui Speilberger, tidak lain halnya seperti hubungan intim yang hampir dilakukan secara rutin. Lalu apa sebenarnya alasan yang mendasari kemarahan Anda? Akankah Anda ingin mengubah kebiasaan buruk ini? Lihat tipsnya.

Pemicu kemarahan dan solusinya?

Dulu, seringkali Anda mengekspresikan kemarahan dengan membanting pintu lalu pergi meninggalkan orang yang membuat kita marah.

Tapi kini, zaman sudah berubah, dunia teknologi makin membebaskan Anda untuk meluapkan kemarahan. Bisa dengan mengetik Email, SMS, bahkan membuat status Facebok atau Twitter. Namun, hal ini justru dinilai berbahaya. Menurut Scott Wetzler, Ph.D., seorang psikiater dan profesor dari New York City Montefiore Medical Center, tindakan ini berbahaya bagi kondisi psikis orang yang sedang marah. Terutama wanita.

"Orang yang meluapkan kemarahannya sendiri, dalam arti hanya mencurahkan dalam akun jejaring sosial atau melalui Email, akan kehilangan betapa pentingnya argumen dan konfrontasi," ucapnya, seperti dikutip dari Shine.

Intinya, Anda tetap membutuhkan kehadiran orang lain sebagai media konfrontasi. "Mengatasi masalah dengan kesendirian hanya akan memicu kemarahan itu semakin parah," tambahnya.

Menurut Wetzler, kemarahan akan berefek positif jika Anda bisa melihat reaksi wajah, bahasa tubuh dan mendengar intonasi suara lawan bicara Anda, saat melakukan percakapan. Jadi, semua hal yang membuat Anda bisa langsung mendapat respon dan diselesaikan secara langsung.

Dengan kata lain, argumentasi dan komunikasi bisa menjadi jalan terbaik untuk meredam dan perlahan-lahan menghilangkan amarah Anda.

Sebaliknya, wanita yang cenderung hobi meluapkan kemarahan itu hanya dengan mengetik status di akun jejaring sosial, justru akan memicu kemarahan itu semakin memuncak.

"Mungkin Anda merasa puas dengan menghujat lewat tulisan, namun semakin Anda merasa puas, tanpa disadari, emosi kemarahan itu akan semakin menjadi-jadi," kata profesor itu menambahkan.

Hal ini juga dibenarkan oleh seorang peneliti dari University of Minnesota. Dia mengatakan, bahkan komunikasi melalui telepon seluler pun penuh risiko. "Kualitas suara yang buruk dan gangguan lainnya bisa menjadi salah tafsir. Akibatnya bisa menyebabkan konflik, rasa sakit hati dan kesalahpahaman," ungkapnya.

Eddie Reece, seorang psikoterapis yang berbasis di Atlanta, membedakan antara kemarahan menjadi dua, negatif dan positif. Marah negatif sering ditandai dengan berteriak dan memukul. Sedangkan kemarahan positif, didasari oleh kematangan, komunikasi yang terkendali dan kepercayaan diri. Tidak perlu menahan perasaan, kata Reece, cukup atur cara Anda berkomunikasi.

"Kemarahan dapat menjadi emosi paling intim antara dua orang yang ingin berbagi. Dengan belajar untuk lebih bijaksana dan bertanggung jawab, Anda tidak hanya menjadi lebih tenang dan sehat, tapi juga akan lebih bahagia," jelas Reece. (umi)
• VIVAnews

4 Trik Agar Si Dia Memaafkan Anda

Anda perlu punya strategi agar permintaan maaf Anda dikabulkan olehnya.

VIVAnews - Ketika wanita marah atau ngambek, seringkali membuat pria 'mati kutu'. Akhirnya, pria pun melancarkan berbagai cara untuk meluluhkan hati wanita.

Tak jauh berbeda dari wanita, saat pria marah pada pasangan, mereka juga butuh waktu untuk memaafkan. Maka itu, layaknya pria, wanita juga perlu punya strategi agar permintaan maaf Anda dikabulkan olehnya.

Sebelum mengutarakan kalimat, 'Aku minta maaf' pada si dia, ikuti langkah-langkah berikut ini:

Berikan dia ruang
Anda mungkin merasa perlu meminta maaf secepat mungkin padanya. Boleh jadi, hal itu Anda anggap yang terbaik. Tetapi, yang sebenarnya yang mesti dilakukan adalah membiarkan si dia menenangkan diri terlebih dulu.

"Ketika bertengkar hebat dengan kekasih, aku perlu waktu beberapa hari sebelum benar-benar siap membicarakan kembali masalah itu. Terkadang, aku pergi dengan teman pria yang bisa membantu aku mengeluarkan unek-unek,” kata Noah, 35 tahun menceritakan masalahnya.

Bila hal itu dilakukan pasangan, Anda sebaiknya jangan langsung berburuk sangka. Ini adalah salah satu cara pria mengatasi masalah. Biarkan dia tenang sendiri, jika kepala dan hati Anda berdua sudah dingin, Anda bisa meminta maaf padanya.

Jangan emosi
Walaupun Anda mampu membuktikan bahwa Anda pantas mendapat maaf dari dia, lakukan dengan nada tenang. Bila Anda emosi, karena si dia belum memaafkan, kondisi itu justru akan membuat hati Anda makin sakit.

"Terus menerus meminta maaf, belum tentu bisa membuat hati pria cepat luluh. Kami akan memaafkan, bila memang waktunya tiba," kata Brad, 31 tahun.

Berikan pujian
Pria tidak pernah kebal terhadap pujian. Melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa baik, tidak hanya akan membuatnya nyaman, tapi sekaligus bisa mengingatkannya agar tidak lagi marah pada Anda.

"Itu titik lemah aku," kata Joe, 29 tahun. "Ketika kami makan berdua, dan hanya mendengar tawa kekasih, aku langsung merasa tidak ada masalah yang bisa menghancurkan hubungan kami."

Jangan mudah menangis
Banyak pria yang justru makin marah melihat pasangannya sering menangis. Jika berbuat kesalahan, tekadkan diri Anda untuk meminta maaf tanpa mengeluarkan air mata.

Pria akan lebih menghargai Anda meminta maaf dengan nada tegas. Dengan begitu si dia akan menganggap Anda benar-benar menyesal dan tak akan lagi mengulang kesalahan.
• VIVAnews

Empat Tanda Cinta Si Dia Palsu

Tidak mudah mengetahui apakah cinta pasangan tulus. Ada empat kriteria menilainya.

VIVAnews - Jika saat ini Anda sedang menjalani hubungan asmara, pastikan pasangan benar-benar tulus mencintai. Bukan berpura-pura atau hanya ingin mengambil keuntungan dari hubungan yang sedang dijalani.

Memang tidak mudah mengetahui apakah pasangan saat ini tulus mencintai Anda. Jane Grener PhD, seorang psikolog dan konselor pernikahan, memberi lima tanda jika seorang pria memberikan cinta palsu, seperti dikutip dari laman Galtime.

1. Selalu mengatakan "Aku hanya ingin bersama kamu", saat dia sedang jauh.
Hati-hati jika seorang pria selalu mengatakan kalimat itu saat ia sedang tidak bersama dengan Anda. Ungkapan bisa jadi hanya gombal. Saat sedang jauh ia justru bersama dengan wanita lain. Dengan kalimat tersebut ia hanya ingin Anda tenang dan tidak diganggu oleh sms atau telepon dari Anda.

2. Tidak fokus saat menunjukkan kasih sayang
Saat ia memeluk atau mencium Anda, matanya tidak fokus memerhatikan Anda. Ia justru melihat sekeliling atau menatap ponselnya. Ini bukan sekedar sikapnya yang acuh, tetapi bisa juga jadi penggambaran perasaannya pada Anda.

3. Membuat sekaligus membatalkan janji
Ia membuat janji pada Anda tetapi kemudian membatalkan. Misalnya ia berjanji memperkenalkan Anda pada teman atau keluarganya, tetapi di menit-menit terakhir ia justru membatalkannya.

4. Membicarakan masa depan yang tak pernah ada
Ia selalu membicarakan masa depan tetapi itu hanya sebatas bicara dan bukan merealisasikannya. Saat pertama ia membicarakan masa depan mungkin terdengar manis. Tetapi, jika lama kelamaan apa yang dibicarakannya sudah mulai terdengar omong kosong, berhati-hatilah. Ikuti kata hati Anda dan jangan sampai terlena. (pet)

Apakah Anda Bisa Baca Pikiran Pasangan

VIVAnews - Tanpa sadar, Anda dan pasangan sebenarnya bisa saling membaca pikiran. Penelitian Sydney University of Technology, Australia, mengungkap bahwa sinkronisasi kerja otak mayoritas pasangan sangat selaras.

Penelitian yang fokus untuk melihat eksistensi 'indera keenam' ini menemukan pola identik pada aktivitas otak antarpasangan yang memiliki kedekatan hubungan emosional.

Itu berarti mereka telah mencapai suatu keadaan di mana sistem saraf dalam keadaan harmonis. Keadaan ini membantu mereka saling mengetahui pikiran dan emosi masing-masing. Temuan luar biasa muncul dari analisis aktivitas otak pada pasien dan konselor dalam sesi terapi.

Sejumlah psikolog telah lama mengetahui bahwa beberapa pasangan belajar untuk berpikir seperti pasangannya. Ini memungkinkan mereka untuk 'tahu' apa yang akan dikatakan atau dipikirkan pasangannya.

Para peneliti yang terlibat percaya, sinkronisasi kerja otak ini tidak hanya berpengaruh pada pasangan, tapi juga teman dekat, dan antaranggota keluarga.

Penelitian sebatas melihat aktivitas sistem saraf, yaitu dengan mempelajari otak dan detak jantung 30 relawan selama sesi konseling. Salah satu peneliti mengungkapkan, momen penting adalah ketika otak pasien dan konselor mulai bekerja dan saling sinkronisasi dalam tahapan altered state.

"Ketika tahapan itu terjadi kita dapat dapat membaca otak dan pikiran orang lain dalam level yang dalam atau bisa dikatakan indera keenam," kata Dr. Trisha Stratford, dari Sydney University of Technology, seperti dikutip dari Daily Mail.

Selama tahapan altered state, bagian dari otak masing-masing orang dapat mengontrol sistem saraf dan denyut jantung akan berdetak secara bersamaan.

Wednesday, September 1, 2010

Arti Cinta di Mata Pria dan Wanita

Cinta meskipun dirasakan semua orang tetapi diartikan secara berbeda oleh pria dan wanita.

VIVAnews - Cinta meskipun dirasakan semua orang tetapi diartikan secara berbeda oleh pria dan wanita. Tim asosiasi psikolog Amerika Serikat mencoba mencari tahu perbedaan tersebut. Seperti dikutip dari Genius Beauty, survei dilakukan pada 2000 pria dan wanita yang berusia antara 20 dan 40 tahun.

Kesimpulan dari survei, pria dan wanita sangat berbeda dalam mendefinisikan arti kata 'cinta'. Kaum wanita lebih mengartikan cinta dengan perhatian, pengertian, kelembutan, rasa hormat, loyalitas, dan pengakuan. Sedangkan pria mengartikannya dengan kepercayaan, kekaguman, dukungan, penghargaan dan penerimaan

Tim psikolog percaya perbedaan tersebut memiliki dampak yang besar dalam memicu konflik antar pasangan. Hal yang paling sering menyebabkan perselisihan dalam keluarga dan hubungan percintaan antara lain ketidaksetiaan, pandangan yang berbeda pada perawatan anak, hubungan dengan keluarga, teman, atau kerabat lainnya.

Menurut tim psikolog, solusi masalah tersebut adalah memelihara kontak fisik yang intim antara pasangan. Hal lain yang juga sangat penting adalah meningkatkan kemampuan dan kemauan untuk dengan tenang membahas perbedaan sudut pandang dalam menghadapi suatu masalah.